Pages


Makhluk Aneh Ditemukan Dalam Kepompong Berusia 200 Juta Tahun

Oleh Jeanna Bryner, Managing Editor LiveScience | LiveScience.com
Sekitar 200 juta tahun yang lalu, seekor lintah melepas kepompong berlendir yang  tanpa disadari membungkus dan menjebak hewan aneh dengan ekor yang elastis, mengawetkannya sampai para peneliti menemukan makhluk yang berbentuk seperti tetesan air mata itu di Antartika baru-baru ini.

Kepompong tersebut tampak seperti yang dihasilkan oleh lintah hidup, seperti lintah yang digunakan untuk pengobatan. Terbungkus di dalamnya, adalah hewan yang seperti bel yang tampak mirip dengan spesies di genus Vorticella, tubuhnya memanjang 25 mikron (selebar sekitar beberapa helai rambut manusia) dengan sebuah tangkai yang melingkar erat yang panjangnya sekitar dua kali lipat dari itu.


Foto oleh Benjamin Bomfleur

Dan sama seperti semua eurkaryotes, organisme tersebut dilengkapi dengan sebuah inti — dalam hal ini, sebuah inti berbentuk tapal kuda besar terdapat di dalam tubuh utamanya. (Satu mikron sama dengan sepersejuta meter).

Hewan yang berbentuk seperti bel tersebut hidup selama Zaman Trias Akhir, ketika suhu Bumi jauh lebih hangat, dengan hutan hujan lebat memenuhi pegunungan yang sekarang dikenal dengan Transantarctic Mountain Range, tempat hewan tersebut ditemukan. Pada saat itu, Antartika merupakan bagian dari superbenua Gondwana, meskipun masih terletak di wilayah lintang tinggi.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tangkai melingkar, yang digunakan untuk mengikat substrat, mungkin merupakan salah satu mesin seluler tercepat yang pernah diketahui, perubahan dari struktur seperti kabel telepon ke kumparan ketat pada kecepatan sekitar 8 cm per detik.

Mengawetkan jaringan lunak
Mungkin hal yang lebih menakjubkan adalah bahwa makhluk bertubuh lunak dan mikroskopis tersebut selamat dalam masa yang keras tersebut. Mengawetkan organisme bertubuh lunak seperti makhluk tersebut dengan lama sangatlah rumit dan memerlukan beberapa bantuan dari luar untuk menjaga jaringan tersebut terhindar dari kerusakan.

Dalam kasus ini, kepompong yang berlendir tersebut berfungsi lebih baik dalam mengawetkan hewan daripada yang dilakukan getah pohon alias ambar.


Foto oleh Benjamin Bomfleur

"Pengawetan semacam ini memang cukup aneh, tapi organisme bertubuh lunak biasanya tidak bisa menjadi fosil kecuali jika mereka dengan cepat masuk ke dalam medium yang mencegah pembusukan lebih lanjut," kata para peneliti dan ahli paleobotani, Benjamin Bomfleur, dari Biodiversity Institute di University of Kansas kepada LiveScience.

Berikut adalah pendapat para peneliti tentang bagaimana pengawetan cepat tersebut terjadi: "Seekor lintah mengeluarkan kepompong berlendir yang disimpan di bawah air atau di daun yang basah, di suatu tempat dalam sistem sungai yang di masa kini disebut Antartika," kata Bomfleur.

Hewan berbentuk bel tersebut pasti menggunakan tangkai panjang yang mampu menyusut dengan cepat untuk menempelkan dirinya ke kepompong segera sesudah itu, sehingga membuatnya terjebak dan benar-benar terbungkus oleh kepompong yang masih berlendir tadi, dan mengeras dalam beberapa jam hingga beberapa hari.

"Kepompong dengan hewan seperti bel tadi kemudian tertanam di dalam lumpur yang dari waktu ke waktu berubah menjadi lapisan sedimen tempat kami menemukannya sekitar 200 juta tahun kemudian," jelas Bomfleur.

Satu-satunya contoh lain dari pengawetan jenis ini berasal dari kepompong berusia 125 juta tahun yang membungkus cacing nematoda dan ditemukan di Svalbard.

Mengidentifikasi makhluk aneh tersebut
Ketika Bomfleur pertama kali melihat hewan kecil dalam sampel yang ia kumpulkan dari Antartika, dia tidak tahu apa yang ia lihat dan tidak punya waktu untuk berkonsultasi dengan seorang ahli mikrofosil seperti ini, karena ia sedang menyelesaikan gelar doktornya.


Foto oleh Danielle Cook France

"Pada tahun ini, saya akhirnya menemukan waktu yang tepat untuk mencari seseorang yang memiliki keahlian tentang mikroorganisme air tawar untuk mendapatkan pendapat ahli terhadap penemuan itu," kata Bomfleur, seraya menambahkan bahwa ia menghubungi Ojvind Moestrup dari University of Copenhagen.

Bomfleur ingat saat Moestrup melihat fosil tersebut dan berkata, "Untuk mengidentifikasi mikrofosil sering kali sangat sulit atau tidak mungkin, tapi yang satu ini ternyata mudah. Vorticella ciliata dan struktur sprial tersebut adalah tangkainya."

Bomfleur dan rekan-rekannya merinci penelitian mereka pekan ini dalam jurnal “Proceedings of the National Academy of Sciences”.

Related Post:

0 komentar:

Posting Komentar